tafsir yang disalah tafsirkan

Mungkin diantara kita ada yang pernah mendengar seorang penceramah dengan lantang mengatakan
“bahwasannya Allah tidak akan merubah nasib seseorang sehingga seseorang tersebut merubah nasibnya sendiri” . dan dengan tegas penceramah tersebut mengatakan bahwa hal tersebut merupakan maksud dari al Qur’an surat al Ra’d. Kalau diresapi sekilas, seakan-akan pengertian tersebut sangat logis dan masuk akal, karena manusia merupakan satu-satunya mahluk yang dibekali dengan kekuatan akal. Yang tentunya dengan akal dan kekuasaannya tersebut ia mampu merubah nasibnya sendiri. Dapat dicontohkan jika ada seseorang yang dilanda kemiskinan, jika ia ingin keluar dari derita kemiskinannya maka hal yang selazimnya ia lakukan adalah berusaha merubah nasibnya sendiri dengan berusaha dan bekerja. Karena tidak akan mungkin ada yang dapat merubah kemiskinannya kecuali dia sendiri.
Namun jika pengertian tersebut dihadapkan pada keyakinan yang benar bahwa satu-satunya dzat yang berkuasa adalah Allah dan manusia tidak mempunyai otoritas yang absolut untuk merubah nasibnya sendiri. Maka pengertian tersebut telah menafikan kekuasaan Allah.
Dengan demikian menurut tafsir fahrur rozy firman Allah tentang tafsir ayat tersebut menurut semua ahli tafsir mengatakan bahwa yang dikehendaki bukan Allah merubah nasib suatu kaum, tapi Allah tidak menghilangkan ni’mat suatu kaum kecuali mereka sendiri yang menghilangkannya dengan melakukan kemaksiatan dan kerusakan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa memaknai ayat diatas tidak dapat dibenarkan kalau yang dikehendaki adalah makna hakikinya jika manusia memang benar-benar dapat merubah nasibnya sendiri.
Namun dapat dibenarkan memaknai ayat diatas seperti kata penceramah diatas jika yang dikehendaki bukan makna hakikatnya, seperti manusia dapat merubah nasibnya sendiri dengan berusaha namun atas izin taqdir Allah.
Dan juga boleh menisbatkan pengertian tersebut (bahwasannya Allah tidak akan merubah nasib seseorang sehingga seseorang tersebut merubah nasibnya sendiri ) pada al qodho’ fi lauhim mahfud.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

RUANG KOMENTAR

hak cipta dilindungi undang-undang. Powered by Blogger.